Boleh di SHARE

loading...

Belajar Bermakna

Belajar Bermakna

BAB I
PENDAHULUAN
Kimia merupakan salah satu bidang ilmu yang tergolong ilmu pengetahuan alam (IPA) disamping fisika, biologi, astronomi, dam geologi. Sebagaimana halnya bidang ilmu pengetahuan yang lainnya, kimia pun memiliki berbagai cabang imu, diantaranya adalah,kimia anorganik, kimia organic, kimia fisik dan lain-lain. Ilmu bukan hanya untuk diketahui namun ilmu juga harus dapat diterapkan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. 
Mengingat pelajaran IPA merupakan hal yang menurut sebagian orang tergolong sulit, untuk itu saat ini telah diterapkan suatu disiplin ilmu yang disebut dengan Dasar Dasar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Hal ini dapat membantu setiap pelajar untuk dapat menerapkan ilmu yang dimiliki, karena pada dasarnya selain susah dalam mengkaji materi, menerapkan materi yang kita miliki ternyata adalah hal yang tidak mudah.
Dalam ilmu MIPA pada dasarnya mengkaji tentang belajar. Cirri-ciri belajar dan pembelajaran, perkembangan dan pendidikan. Berbicara mengenai belajar, ada satu hal yang menarik untuk diketahui, yaitu apa itu belajar, bagaimana kita belajar dan menerapkannya. Dalam belajar ada yang disebut dengan belajar bermakna. Belajar, perkembangan, dan pendidikan merupakan suatu peristiwa dan tindakan sehari hari. Dari sisi siswa sebagai pelaku belajar dan dari sisi guru sebagai pembelajar, dapat ditemukan adanya perbedaan dan persamaan.
Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas. Namun teori belajar ini tidak-lah semudah yang dikira, dalam prosesnya teori belajar ini membutuhkan berbagai sumber sarana yang dapat menunjang, seperti : lingkungan siswa, kondisi psikologi siswa, perbedaan tingkat kecerdasan siswa. Semua unsure ini dapat dijadikan bahan acuan untuk menciptakan suatu model teori belajar yang dianggap cocok, tidak perlu terpaku dengan kurikulum yang ada asalkan tujuan dari teori belajar ini sama dengan tujuan pendidikan. 
Beberapa ilmuan telah memberikan teori-teori tentang belajar bermakna, diantaranya adalah, Teori Belajar B.F. Skinner, Teori Belajar Kognitif menurut Piaget Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne,Teori Belajar Gestalt ,dan teori belajar ausubel. Namun daalam hal ini yang akan kami bahas adalah teori belajar ausubel. Menurut Ausubel dalam (Dahar, 1988: 134) belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi disajikan pada siswa, melalui penemuan atau penerimaan. 
Belajar penerimaan menyajikan materi dalam bentuk final, dan belajar penemuan mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang diajarkan. Dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana cara siswa dapat mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang telah dimilikinya, ini berarti belajar bermakna. Akan tetapi jika siswa hanya mencoba-coba menghapal informasi baru tanpa menghubungkan dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya,
Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi
Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.

BAB II
PEMBAHASAN

Belajar merupakan peristiwa sehari hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi siswa belajar dialami dari suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan dan tumbuhan manusia, dan bahan yang telah tersimpun dalam buku- buku pelajaran. Dari segi guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal.
A. Belajar Menurut Ausubel
Menurut ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran disajikan pada mahasiswa, melalui penerimaan atau penemuan. Dimensi kedua menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada stuktur kognitif yang ada. Struktur kognitif adalah fakta-fakta. Konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa.
Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada siswa baik dalam bentuk belajar penemuan yang menyajikan itu dalam bentuk final, maupun dengan bentuk belajar penerimaan yang mengharuskan siswa untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan. Dalam tingkat kedua siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan yang telah diketahuinya dalam hal ini telah terjadi belajar bermakna, akan tetapi siswa itu dapat juga hanya mencoba coba menghafalkan informasi baru itu tampa menghubungkan dengan konsep konsep yang telah ada dalam struktur kognitifnya , dalam hal ini terjadi belajar hafalan.
Inti tentang belajar bermakna dari ausubel adalah bahwa belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Berlangsung atau tidaknya suatu brlajar bermakna tergantung pada struktur kognitif yang ada,serta kesiapan dan niat anak didik untuk belajar bermakna dan kebermaknaan materi pelajaran secara potensial. Untuk menerapkan teori ausubel dalam mengajar , guru perlu memperhatikan adanya adanya pengatur awal pada awal pelajaran , dalam mengaitkan konsep konsep adanya proses diferemsiasi progresif dan rekonsialisasi integrasif, dan belajar superordinat.
Atas dasar teori ausubel , novak mengemukakan gagasan peta konsep yang menyatakan hubungan antara konsep konsep dalam bentuk proposisi proposisi untuk menolong guru mengetahui konsep konsep yang telah dimiliki para siswa agar belajar bermakna dapat berlangsun, untuk mengetahui penguasaan konsep konsep pada siswa, dan untuk menolong para siswa belajar bagaimana belajar.
B. Menerapkan Teori Ausubel dalam Mengajar
Untuk dapat menerapkan teori ausubel dalam mengajar sebaiknyalah kita perhatikan apa yang dikemukakan oleh ausubel dalam bukunya yang berjudul”education psychology:a cognitive view” yang berbunyi factor yang paling yang mempengaruhi belajar adalah apa yang telah diketahui oleh siswa . yakinlah ini dan ajarlah ia demikian’
Pernyataan ausubel inilah yang menjadi inti teori belajarnya agar terjadi belajar bermakna konssep baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa 
C. PETA KONSEP
Ausubel sangat menekankan agar para guru mengetahui konsep konsep yang telah dimiliki oleh para siswa agar belajar bermakna dapat berlangsung.tetapi ausubel belum menyediakan alat atau cara bagi para guru yang dapat digunakan untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh paa siswa. Noovak berpendapat hal ini dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep . peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep- konsep dalam bentuk proposisi proposisi.
Ausubel (dalam Dahar, 1988:137) mengemukakan bahwa belajar dikatakan bermakna (meaningful) jika informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik sehingga peserta didik dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. 
Menurut ausubel ada dua jenis belajar yaitu : 
1. Belajar bermakna (meaningful learning)
2. Belajar menghafal (rote learning)
Belajar bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur penertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar .Belajar bermakma terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru dengan konsep yang telah ada sebelumnya.
Bila konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseoarang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahui sebelumnya
Menurut Ausubel belajar dapat diklasifikasikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran itu disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan. Selanjutnya dimensi kedua menyangkut bagaimana siswa dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada. Jika siswa hanya mencoba menghafalkan informasi baru itu tanpa menghubungkan dengan struktur kognitifnya, maka terjadilah belajar dengan hafalan. Sebaliknya jika siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi baru itu dengan struktur kognitifnya maka yang terjadi adalah belajar bermakna.
Nasution 1982:158 menyimpulkan kondisi- kondisi belajar bermakna sebagai berikut :
1. Menjelaskan hubungan atau relevansi bahan- bahan baru dengan bahan- bahan lama.
2. Lebih dahulu diberikan ide yang paling umum dan kemudian hal- hal yang lebih terperinci.
3. Menunjukkan persamaan dan perbedaan antara bahan baru dengan bahan lama.
4. Mengusahakan agar ide yang telah ada dikuasai sepenuhnya sebelum ide yang baru disajikan
Selanjutnya dikatakan suatu pembelajaran dikatakan bermakna jika memenuhi prasyarat, yaitu:
1. Materi yang akan dipelajari bermakna secara potensial. Materi dikatakan bermakna potensial jika materi itu mempunyai kebermaknaan secara logis dan gagasan harus terdapat dalam struktur kognitif.
2. Anak yang akan belajar harus bertujuan melaksanakan belajar bermakna sehingga anak tersebut mempunyai kesiapan dan niat dalam belajar bermakna.
Langkah langkah belajar bermakna ausubel adalah, pengaturan awal. Pengatur awal dapat digunakan untuk membantu mengaitkan konsep yang lama dengan knsep yang baru yang lebih tinggi maknanya. Selanjutnya adalah diferensiasi progresif dalam pembelajaran bermakna perlu ada pengembangan dan kolaborasi konsep-konsep. Caranya unsur yang inklusif diperkenalkan terlebih dahulu kemudian baru lebih mendetail. 
Ada tiga kebaikan dari belajar bermakna yaitu : 
1. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat
2. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip
3. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa. 
Teori pembelajaran Ausabel merupakan salah satu dari sekian banyaknya teori pembelajaran yang menjadi dasar dalam cooperative learning. David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Menurut Ausubel (Dahar 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah “bermakna” (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah disiswai dan diingat siswa. Suparno (1997) mengatakan pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran.
Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilansiswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. 
Oleh itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Pembelajaran sejarah bukan hanya sekadar menekankan kepada pengertian konsep-konsep sejarah belaka, tetapi bagaimana melaksanakan proses pembelajarannya, dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran tersebut, sehingga pembelajaran tersebut menjadi benar-benar bermakna. Dengan pembelajaran koperatif, tentu bahan sejarah yang disiswainya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat, melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatih dalam situasi nyata dan terlibat dalam pemecahan masalah. Dengan demikian, pembelajaran koperatif akan dapat mengusir rasa jemu dan bosan pembelajaran mata siswaan sejarah yang lebih banyak menggunakan pendekatan ekpositori (Al Muchtar 2002), khasnya pembelajaran sejarah yang selalu bermasalah selama ini.
Menurut Ausubel, pemecahan masalah yang sesuai adalah lebih bermanfaat bagi siswa dan merupakan strategi yang efisien dalam pembelajaran. Kekuatan dan makna proses pemecahan masalah dalam pembelajaran sejarah terletak pada kemampuan siswa dalam mengambil peranan pada kumpulannya. Untuk melancarkan proses tersebut maka diperlukan bimbingan secara langsung daripada guru, sama ada secara lisan maupun dengan tingkah laku, manakala siswa diberi kebebasan untuk membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini merupakan penekanan dalam pembelajaran koperatif atau cooperative learning.
Selanjutnya Ausubel mengatakan bahwa ada dua jenis belajar, yaitu belajar bermakna (meaningful learning) dan belajar menghafal (rote learning). Bahan pelajaran yang dipelajari haruslah bermakna. Belajar bermakna adalah suatu proses di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar akan bermakna bila siswa mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat oleh siswa.
Lebih lanjut Ausubel (dalam Kartadinata, 2001) mengemukakan, seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena, pengalaman dan fakta-fakta baru ke dalam skemata yang telah dipelajari. Hal ini menjadikan pembelajaran akuntansi tidak hanya sebagai konsep-konsep yang perlu dihapal dan diingat hanya pada saat siswa mendapat materi itu saja tetapi juga bagaimana siswa mampu menghubungkan pengetahuan yang baru didapat kemudian dengan konsep yang sudah dimilikinya sehingga terbentuklah kebermaknaan logis. Dengan model cooperative learning materi yang dipelajarinya tidak hanya sekadar menjadi sesuatu yang dihafal dan diingat saja, melainkan ada sesuatu yang dapat dipraktikkan dan dilatihkan dalam situasi nyata dan terlibat dalam pemecahan masalah. Diharapkan model cooperative learning akan dapat mengusir kejenuhan dan kebosanan yang dirasa siswa di kelas karena selama ini hanya mendengarkan materi dan guru saja. 
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi siswa.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Data dikemukakan bahwa belajar dikatakan bermakna (meaningful) jika informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik sehingga peserta didik dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang dimilikinya. 
2. Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna
3. proses belajar akan mendatangkan hasil atau bermakna kalau guru dalam menyajikan materi pelajaran yang baru dapat menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa.
B. SARAN
Untuk menjadi seorang pelajar yang baik perlu adanya pemahaman akan arti belajar bermakna sehingga kita dapat memahami dalam mengaitkan informasi dengan konsep yang disajikan dalam tiap materi, dalam hal ini kita jangan menghafal semua materi yang ada karena sangat tidak efektif unuk dapat menerapkan ilmu yang kita peroleh. 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Teori Belajar Ausubel. http//www.geogle/(G:\Teori belajar ausubel.html). diakses pada tanggal 10 Maret 2010.
Anonim. 2010. Teori Ausubel Tentang Belajar. http//www.geogle_G:\teori-ausubel-tentang-belajar. Diakses pada tanggal 10 Maret 2010.
Anonim. 2010. Teori Pembelajaran Ausubel. http//www.geogle_G:\Teori Pembelajaran Ausubel - Xpresi Riau Pos.html. diakses pada tanggal 10 Maret 2010.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan PT.Rineka cipta.
Suparlan suhartono. 2007. Dasar-Dasar Filsafat. Jogjakarta : Penerbit Ar-Ruzz Media.
Tag : NEWS, TIPS
0 Komentar untuk "Belajar Bermakna"

Back To Top